Lord Devan Meets a Girl Kahiyang
PEMBUKAAN
Kahiyang seorang gadis manis dan menyukai hal-hal yang berbau romantis dan berambut panjang hitam mengombak itu berjalan pelan menuju SMA Horizon dengan bergembira dan semangat sebab dia kini bisa masuk ke SMA bonafit di kotanya yang terkenal bagus prestasi siswa dan lembaganya yang kompeten mencetak generasi terbaik di provinsi mereka, dia berjalan sambil bersenandung lagu kesukaannya Chop Suey milik System of a Down.
Namun tiba-tiba dia dikejutkan dengan seorang misterius memakai hoody yang menabraknya sambil memberikan secarik kertas selembaran bertuliskan 'Pesta Haloween', Kahiyang pun membaca apa tulisan di lembaran itu.
"Apa ini? datang dan saksikan lah kesan berhargamu tahun ini dan jika berani datang lah tanpa teman, diadakan di pusat kota, di alun-alun depan kantor wali kota, ada berbagai hiburan modern dan klasik untuk semua usia, aneh!" Meski begitu Kahiyang tetap menyimpannya untuk dijadikan bahan mengobrol di sekolah jika bertemu teman baru, lumayan ada bahan omongan untuk berkenalan dengan lingkungan baru, pikir Kahiyang.
Setibanya di sekolah SMA Horizon, Kahiyang langsung mencari kelas untuknya belajar dan di sana sesuai ekspektasi bahwa dia memang bertemu circle baru. Dia mulai membahas pengumuman di kertas yang dia terima dari orang asing saat berangkat jalan kaki tadi.
"Tapi emang keren lho ini kan emang diadainnya setiap tahun guys!" Komen Elsa teman baru Kahiyang.
"Masa' sih? Tapi masa' ga boleh bawa teman gitu!" Protes Kahiyang.
"Emang ga boleh, biar seru kesannya horror gitu!" Timpal Meily si berkacamata dengan tubuh agak gemoy tapi hidungnya mancung.
"Lu tau ga, ini tuh tiap tahun ada dan kakak gue tahun kemarin hadir di acara beginian malah nemu pacar cakep banget! Nah gue mau tuh kayak gitu kan lumayan!" Centil Elsa.
"Huu lebay loe! Mikir tu PR kalau anak sekolah ye bukan bercintaa mulu, inget dompet ortu jangan sampai kosong sia-sia, mereka kerja ngejen elunya pacaran! Bego... Bego! Ujung-ujungnya loe rungkat curhat sana-sini jelekin mantan loe, amit-amit!" Ledek Meily sambil ketok-ketok meja belajarnya beberapa kali.
"Hihihi! Kalian dulu tuh satu sekolah SMP ya? Kok akur banget?" Kahiyang terkekeh.
"Akur? Astaga! Gak pernah akur! Kayak Tom and Jerry! Jangankan se-SMP sama dia, sebangku juga bayangin! Eneg gue liat dia mulu!" Elsa tak mau kalah.
"Hahaha!" Kahiyang terkekeh-kekeh.
"Eneg mata loe! Kemana ada masalah loe larinya ke gue giliran loe seneng loe pura-pura mules mo ke jamban, muke gile loe bilang eneg, blagu banget!" Toyor Meily ke kepala Elsa.
"Aduh! Nenek sihir satu ini cosplay aja sono gih di alun-alun tuh cocok asli!" Elsa mengurut jidatnya.
"Hahaha! Seru-seru seru... Kenal kalian ngakak terus aku anjir!" Dan pagi itu pun menjadi awal persahabatan mereka.
Bab 1 PESTA HALOWEEN
Hingga malam menjelang, Kahiyang membuka tasnya dan membaca lagi tulisan di lembaran itu berkali-kali untuk meyakinkan dirinya besok yang akan datang. Mengingat setelah bertukar nomor akun WhatsApp dengan dua teman gokilnya tadi pagi dan chat mereka berkali-kali justru jawabannya sama bahwa mereka ingin pergi sendirian ke sana maka Kahiyang jadi terkontaminasi ingin ke sana sendirian juga.
Dengan excited Kahiyang lompat bangkit dari kasurnya dan membuka lemarinya untuk mencari adakah kostum yang bisa dia pakai ke acara itu.
Dan ternyata ada, sebuah gaun Princess Black Haloween tahun lalu yang tak begitu banyak orang tahu karena Kahiyang jarang memakainya di acara-acara khusus.
Kahiyang mencoba untuk mengenakan gaun itu lagi berharap lingkaran perutnya masih muat dan meski pun ternyata...
"Anjir dimana-mana orang tuh ga muat karena pinggang ya... Ini kok malah ketek gue sih yang rempong!" Yang sudah mulai susah masuk justru ketiaknya karena ukuran bahunya bertambah tapi dia merasa masih bisa mengakalinya dengan menggunting gaun itu, maka Kahiyang mengambil gunting dan menyobeknya pelan-pelan.
"Nah, jadi sexi anjir! Ah aku pakaikan boleroku yang hitam aja ntar, matching juga kali!" Kahiyang kreatif penuh ide.
"Gue ga sabar nih mau buktiin bener ga omongannya Elsa kalau di acara itu kita bisa nemu cowo ganteng!" Kahiyang terkekeh sambi melepas kembali gaunnya dan menyimpannya di lemari.
"Diem lu dengan tenang di lemari ya gaun! Kita cetak kenangan terakhir lu besok malam!" Kahiyang tersenyum manis sambil menjentikkan jarinya ke gaun itu lalu pergi ke bed untuk berbaring.
Siang besoknya Kahiyang menjalani rutinitasnya seperti biasa, ngakak di kelas karena dua temannya yang konyol dan mengerjakan pekerjaan sekolah dengan ringan hati, Kahiyang jarang mengeluh dia memang gadis lugu yang suka hal random dan ingin menjalani hidup yang biasa-biasa saja namun itu berubah ketika dia memutuskan benar-benar datang ke acara haloween malam ini.
Kahiyang kini sudah berada di alun-alun kota yang disulap panitia menjadi taman hiburan malam yang terasa nyempil asing dari suasana biasa yang Kahiyang temukan setiap hari. Dia kini berada di gerbang pintu masuk zona bermain haloween itu.
"Tiket masuknya?" Kata seorang pemuda berkacamata yang mengenakan kostum Harry potter bertugas menjadi juru masuk para tamu undangan.
"Tiket? Bukannya gratis ya?" Kahiyang garuk kepala.
"Di brosur ada paling bawah itu tiketnya bisa digunting atau disobek" dengan sabar pemuda berbibir manis seperti cewe itu mejelaskan.
"Oh, bentar!" Kahiyang meraih tas selempang hitamnya dan mengambil lembaran yang pemuda itu maksud, dan ternyata memang ada tiket bersambung dengan lembaran itu
"Ah iya benar, nih!" Kahiyang menyodorkan lembaran brosur itu.
"Tiketnya aja mbak" pemuda itu menghela nafas, dia tidak mau repot sebab tangannya penuh pekerjaan.
"Oh, hehe! Iya lupa!" Dengan riang Kahiyang menyobek tiket itu dari lembaran dan pemuda itu lekas mempersilahkannya masuk setelah menerimanya dari Kahiyang.
Kahiyang takjub dengan suasana horor di tempat lobi masuk dimana atribut tempat itu terlihat sangat menjiwai jiwa dari dimensi lain yang tak lazim untuk dilihat, suasana temaram dan gelap dengan langit terbuka diikuti sedikitnya lampu penerangan dan semua sumber cahaya hanya dari lilin-lilin dan obor yang menyala dengan api.
"Woah!" Kahiyang melangkahkan kakinya dengan percaya diri menyusuri tempat itu dan menuju kemaraian orang-orang yang mengenakan kostum sesuai tema malam itu.
Dia berjalan menikmati pemandangan tengkorak yang bersusun rapi di dinding masuk tempat itu sampai akhirnya disambut oleh kerumunan seperti pasar setan yang menjual atribut-atribut penyihir hitam.
"Ini beneran?" Gumam Kahiyang melihati barang-barang antik yang terlihat mahal.
"Astaga keren banget kristal ini tapi sayang aku ga bawa banyak uang jajan anjir tau gitu minta transferan dari abang!" Keluh Kahiyang yang melihat bola kristal unik menyala dengan kerlap-kerlip bintang melayang di dalamnya bercampur dengan arus listrik yang menari-nari.
Kahiyang terlihat anggun melangkah di antara orang-orang seram seperti monster dan kakinya menuju sebuah wahana misterius yang seolah menarik sanubarinya untuk masuk ke dalam sana.
"Ini pasti gua hantu" tebak Kahiyang.
Dia memasuki tempat itu dan semakin dalam, beberapa ornamen mistik menyeramkan mulai meneror bulu kuduknya, "Hah! Anjir!" Ada kepala melayang tiba-tiba melompat berayun di depannya.
"Hah!" Kahiyang mulai jantungan namun kemudian dia tertawa dan berjalan dengan semangat menyimpan rasa takutnya menyusuri gua itu semakin dalam.
Kahiyang mulai merasa aneh dengan tempat ini karena begitu horor. Namun dia tetap memberanikan diri melewati ruangan yang mulai bersuasana gore, banyak pemandangan mengerikan seperti orang yang dibelenggu, amat tersiksa dan semua ruangan seperti ruang penyiksaan.
"Sepertinya ini bukan tema haloween tapi psikopat anjir! Gue salah masuk kamar!" Gumam Kahiyang berusaha menenangkan diri melihat sosok sedang menangis dipasung.
"Kamu asli manusia bukan?" Kata Kahiyang namun gadis yang menunduk dengan kaki dan tangan yang dibelenggu berdarah-darah itu mengangkat wajahnya.
Memperlihatkan mata merahnya di balik rambutnya yang menjuntai berantakan.
"Hah!" Kahiyang berlari menjauhi tempat itu dan mulai berteriak panik karena wahana semakin menjadi tidak karuan.
Ada sosok memegang kapak mengejarnya, orang itu berjubah hitam mengenakan penutup muka seperti topeng pembunuh di film yang menyeramkan.
"Tolong!" Kahiyang terus berlari hingga keluar terowongan dan menghadapi ramainya orang-orang berdansa.
"Dansa?" Kahiyang melihati semua orang yang saling berpasangan menari dengan ritme gerakan yang amat pelan diiringi musik organ aneh.
"???" Kahiyang melewati gerombolan pedansa itu hingga...
Dia melihat ada sesosok pria berdiri di depan sana memunggunginya.
Sosok berbadan tinggi tegap dan berbahu lebar itu sepertinya satu-satunya di ruangan ini yang tidak memiliki pasangan.
Kahiyang berusaha mendekatinya karena ingin meminta tolong, dia berpikir mungkin dia juga terjebak di tempat ini dan sedang kebingungan mencari jalan keluar namun dia berhenti melangkah ketika pria itu pelan-pelan menggerakkan badannya.
"Hah???" Kahiyang mengamati pria itu.
Pria itu berbalik badan pelan-pelan dan memperlihatkan wajahnya kepada Kahiyang.
Kahiyang terpana dengan wajah sosok itu namun di mulutnya seperti ada darah mengalir.
Pria itu berkulit putih pucat pasi namun mempesona, Kahiyang mengerjapkan mata dan ketika dia berkedip pria misterius itu sudah tidak di sana lagi.
Kahiyang mengedarkan pandangannya ke segala arah namun dia tidak mendapati dan ternyata pria itu sudah berjalan sangat jauh di balik ruang dansa itu, terlihat punggungnya menjauh dari keramaian.
Kahiyang berlari mengejarnya dan tidak menghiraukan sekelilingnya.
Pria itu terlihat sedang berada di atas menara sambil melihat pemandangan di bawahnya, dia dengan ekspresi wajahnya yang datar dan mata yang terlihat dingin itu memandang sekelilingnya seperti mengawasi. Kahiyang melihat sosok itu dan mengejarnya.
Kahiyang mendekati tangga dan menaiki menara yang tidak terlalu tinggi namun menakutkan sebab terbuat dari rangka besi yang didesain jarang-jarang seperti rintangan.
Kahiyang melihat ke bawah dan ternyata itu sudah tinggi, "padahal tadi kayaknya ga setinggi ini deh!!" Pekik Kahiyang.
"Kok aku ga bisa bergerak!" Gaun Kahiyang nyangkut di besi.
Sementara pria itu sudah menuruni menara lewat tangga lain.
"Aduh Bang tungguin napa? Emang ga normal mungkin lu ada cewe cantik kaya gini ga minat ngajak kenalan kek minimal basa basi gitu anjir!" Kahiyang sebenarnya berniat tanya jalan keluar karena sudah merasa freak dengan tempat itu namun tidak ada pilihan lain, karena sulit melepas gaunnya dia menariknya sekuat tenaga dan...
Menara itu bergoyang!
"Hah!" Ada sebuah lilin jatuh dari atas dan mengenai gaun Kahiyang.
"Hah?! Ah tidak!!" Seru Kahiyang.
Namun anehnya semua orang di keramaian seperti tidak mendengar suaranya.
Tidak ada satu pun yang ingin menolong Kahiyang sementara api itu memutus gaun Kahiyang, ia segera turun dari tangga itu dan melepas high heelsnya.
Kahiyang melihat wajah semua orang baik yang bertopeng dan tidak dan dia mulai merasakan kejanggalan, tidak ada yang menatap wajahnya, seolah semua orang sibuk sendiri.
"Tempat macam apa ini!" Kahiyang mulai panik.
Dan....
Kahiyang mulai merasa ada tangan menggenggam erat lengannya dari belakangnya.
Kahiyang menarik nafas panjang dengan menahan degup jantungnya yang berpacu. Dia memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.
"Hah?!"
Kagetnya melihat pria yang sedari tadi dia cari, cowok tinggi berbahu lebar itu mengenakan busana Lord Vampire hitam mengatakan, "ikuti aku!" Terlihat sedikit ada taring di balik bibirnya yang merah oleh darah.
Kahiyang mengangguk. Pria yang lebih tinggi darinya itu menggandeng tangan Kahiyang dan melangkah cepat melewati beberapa wahana menyeramkan lainnya.
"Kok hutan?" Anehnya mereka mulai melewati hutan gelap, Kahiyang semakin heran.
"Jangan banyak bicara." Kata pria pucat itu.
Kahiyang akhirnya mengerti kondisi dengan cepat dia berjalan secara kooperatif di belakang pria yang menggandeng lengannya.
"Kenapa ga gandengan tangan biasa aja sih!" Kata Kahiyang.
Pria itu berhenti melangkah lalu melepaskan tangannya tanpa menoleh. Wajahnya menghadap ke tujuan depan sementara ia membuka tangannya yang lebar dengan jemari panjang indah yang menunggu Kahiyang meraihnya.
Kahiyang meraih tangan itu dengan gugup dan memenuhi sela jemari pria itu, sigap tangan pria itu kuat menggenggam jari Kahiyang yang lentik dan berjalan lagi dengan lebih cepat.
Kahiyang tidak ingin bertanya, jantungnya berdebar dan mengawasi sekitar, mereka akhirnya sampai di semak-semak dan kaget ketika keluar dari semak itu ternyata adalah alun-alun kota depan kantor walikota dimana pagelaran parade pesta haloween tadi diadakan.
Alun-alun itu kosong!
Tidak ada wahana apa pun dan di sana menyala lampu-lampu taman alun-alun, dan keramaian yang terdengar bukan lah keramaian pasar malam namun suara jangkrik yang mencari pasangan.
"Tempat ini? Sepi?" Kahiyang meraih lengan pria itu dengan tangannya yang lain karena ketakutan.
Pria itu menoleh cepat ke wajah Kahiyang dengan tatapan syok yang sama.
"Tenang jangan panik!" Pria itu ternyata masih muda sepertinya seusia di atasnya sedikit, dia berbicara tegas dan singkat.
"Aku takut..." Kahiyang melirik ke sekitar.
"Ayo kuantar kau pulang!" Pemuda itu menggandengnya ke suatu tempat sepertinya ke arah parkir kendaraan.
Anehnya tempat parkir yang agak jauh dari gerbang alun-alun itu ramai. Banyak mobil terparkir dan motor pemuda itu bahkan diapit kendaraan roda dua lainnya.
"Loh! Bukannya alun-alun sepi?!" Kahiyang menunjuk deretan kendaraan setelah menemukan motor besar milik pemuda itu.
Kahiyang dan pemuda itu menoleh ke belakang, betapa terbelalaknya mata mereka berdua karena wahana haloween itu terlihat megah sedang berdiri di hadapan mereka di lahan alun-alun.
"What the fuck!" Komen pemuda itu.
Mulut Kahiyang menganga sambil ditutup oleh tangannya sendiri karena syok.
"Sudah kita balik aja! Aku antar kau pulang!" Kata pemuda itu mengambil motornya dan mengenakan helm teropongnya.
Dia menyiapkan hadap motor, "ayo naik!" Ajaknya ke Kahiyang yang bergaun sedikit terbakar.
Kahiyang mengangguk dan menaiki pijakan tinggi motor gede itu.
Pemuda itu membawanya melesat menjauhi alun-alun, "kemana kita?" Tanyanya alamat.
"Gang anggrek ga jauh dari sini, tadi aku jalan kaki ke alun-alun soalnya deket banget sama rumahku!" Kahiyang sedikit berteriak karena ramai di jalan.
Pemuda itu gesit membawa motor itu dengan cepat mereka pun sudah sampai di depan rumah Kahiyang.
Karena sudah sampai Kahiyang pun turun dari motor itu dan belum mengucap terima kasih, pemuda itu hanya melambaikan tangan lalu terlihat buru-buru meninggalkannya setelah Kahiyang juga melambai.
"Astaga..." Kahiyang melihati punggung pemuda yang berlalu itu kemudian membuka pintu rumah dan masuk ke dalam kediamannya.
"Trep!"
"Yang tadi itu apa coba?" Kahiyang menutup pintu.
Dengan letih gadis berambut lebat itu menaiki tangga ke kamarnya dan masuk ke ruang pribadinya dengan guntai.
"Buk!" Kahiyang melempar dirinya ke kasur kesayangannya.
"Ga tahu siapa dia... Tapi wajahnya masih terbayang-bayang..." Kahiyang tersenyum manis.
Malam itu Kahiyang tidur sangat nyenyak sampai lupa melepas gaunnya akibat terlalu lelah, hingga keesokan harinya...
Bab 2 PERTEMUAN KEDUA
Ketika Kahiyang berangkat jalan kaki ke sekolah dia berlari menuju keramaian di gang sempit sebab terlihat ada kerusuhan ramai.
"Ada apa sih?" Tanya Kahiyang ke siswa sekolah sebelah yang juga kepo.
"Ada yang berantem!" Jawabnya.
Kahiyang menyerobot keramaian dan ingin melihat lebih dekat.
Terlihat seorang pemuda menunjuk ke pemuda yang sedang memakai helm teropong dengan berpakaian seragam SMA.
"Hah! Siswa Horizon!" Kahiyang ternganga pasalnya dia kenal dengan helm teropong itu.
"Itu kan cowo yang tadi malam! Jadi dia sekolah di Horizon!" Kahiyang menutup mulutnya dengan dua tangan.
"Loe ga usah ikut campur ya, Devan! Loe itu bukan siapa-siapanya cewek ini dan kita udah berkawan lama sejak SMP dan gua tahunya loe itu gak suka ikut campur urusan orang! Tapi kenapa sekarang loe ikut campur ye?!" Bentak pemuda yang menunjuk-nunjuk itu.
"Loe mau gue buka aib loe di sini, Zal?!" Pemuda yang ternyata bernama Devan itu membuka helmnya.
"Ah iya itu benar dia!" Kahiyang bergumam panik.
"Apa sih yang loe tahu dari gue dan apa tujuan loe buka aib gue?! Jangan banyak bacot selesein urusannya sekarang!" Gertak pemuda mohawk cepak di hadapan Devan.
"Zal, lu itu bapak dari janin di perutnya Gea! Ga usah lu pukulin Gea, dia itu cewek! Gue ga nyari gara-gara ya sama lu tapi lu nyolot!" Balas Devan.
"Gilak!" Komen salah satu viewer.
"Lu bisa viral, anjing!" Devan mengacam.
Yang benar saja, Kahiyang merogoh sakunya dan mengambil ponsel untuk merekam.
"Woy! Loe nyari mati ya gausah nyari perkara ama gue!" Pemuda yang sedang naik pitam itu menunjuk Kahiyang dan berjalan cepat ke arahnya.
"Hah?!" Kahiyang kaget dan panik.
Devan menarik tangan pemuda tempramen itu supaya tidak menyakiti Kahiyang.
"Duh!" Kahiyang terus merekam, tidak peduli sebab dia ingin menyelamatkan Devan kalau-kalau dengan masalah ini Devan bisa terbunuh oleh tangan pemuda itu.
"Tapi gak usah di rekam juga donk!" Pemuda itu menepis tangan Devan.
Semua orang yang menonton mulai merekam.
"Lu mau ngancam nyawa gua? Ini akibatnya!" Devan merentangkan kedua tangannya.
"Mau lu apa sih babi?!"
"Buk!"
Pemuda itu menonjok pipi Devan.
Devan mengelap bibirnya yang sobek dengan tatapan dingin, dia sengaja tidak mengelak.
"Gue yang nolong Gea di jalan abis lu perkosa pas lu mabok, anjing!
Gue lewat abis dari rumah sakit jenguk paman gue dan Gea lari-lari tengah malam di jalan kayak orang gila tau lu!
Bahkan dia bajunya sobek-sobek bisa-bisa malah orang lain di jalan ada yang sangek merkosa dia!
Reyzal tolol ga ada otak, binatang!" Devan bicara sambil nyengir.
"Bacot!" Lawan Devan ternyata bernama Reyzal, dia menggelontorkan lagi tonjokan ke wajah Devan namun Devan mengelak dan menendang samping paha atas pemuda itu hingga dia terjatuh ke tanah.
"Aduh!" Reyzal merintih kesakitan.
"Udah, Dev!" Pinta Gea mendekati Reyzal sambil menangis.
"Gue mau lu tanggung jawab ke Gea, kalo gue tahu si Gea sampai celaka, gue jeblosin lu ke penjara!" Devan berjalan menjauhi mereka berdua menuju keramaian.
Dan...
Devan meraih tangan Kahiyang.
"Kok gue?" Gumam Kahiyang yang gelagapan mematikan kamera ponselnya.
Keramaian bubar barisan dan Devan menuju sepeda motornya yang diparkir di pinggir jalan gang itu.
"Naik! Ke Horizon!" Ajak Devan singkat.
Kahiyang diam saja lalu menaiki motor yang berjok belakang tinggi itu.
Mereka melaju ke gedung SMA Horizon dan setibanya memasuki area parkir, mereka berhenti dan turun dari kendaraan Devan.
"Gea itu?" Kahiyang penasaran.
"Hah..." Devan menghela nafas panjang sambil meletakkan helmnya ke motor.
"Gea itu temen sekelas gue dan begitu juga Reyzal tadi." Singkat si cowo tinggi itu.
"Jadi namamu Devan, kelas berapa?" Kahiyang berjalan di sisi Devan.
"Kelas tiga." Singkat cowo misterius itu.
"Aku Kahiyang baru aja masuk sekolah ini..." Kahiyang ceria, suara seraknya terdengar mengesankan.
"Kamu pinter nyanyi kah?" Tanya Devan.
"Lumayan, aku setiap akhir tahun selalu ikut pentas musik dulu pas SMP, kenapa?" Senyum Kahiyang.
"Kedengeran aja dari suaranya pas bicara." Devan berjalan cepat seperti sengaja meninggalkan Kahiyang.
"Eh tunggu!" Suara Kahiyang seolah tidak terdengar, Devan berjalan cepat sekali menuju kelasnya berada.
Dengan cemberut Kahiyang berjalan ke kelasnya dan sesampainya di sana dia duduk dengan lemas.
"Kenapa lu? Lagi haid?" Sambut Meily sambil makan snack.
"Ga ada sih, cuma tadi malam gue dapet kenalan cowo emang dari acara haloween itu tapi dia sok cuek banget anjir!" Sungut Kahiyang.
"Uh, cool donk? Bego loe, lebih seru mengejar dari pada dikejar tahu!" Meily mengunyah snacknya semakin antusias karena ada bahan gibah.
"Iya juga ya, dari pada digombalin ya kan... Bikin penasaran aja tuh cowo!" Kahiyang mengangkat dua alisnya.
"Eh emang siapa?" Elsa yang dari tadi menguping.
"Devan.. anak kelas tiga.." Kahiyang melirik Elsa, penasaran dengan responnya.
"Anjay!" Elsa terpelongo.
"Serius loe, Kah?" Meily menepuk-nepuk bahunya.
"Apaan sih!" Kahiyang jadi bingung.
"Itu anak band di sekolah ini tahu! Keren dia tuh! Anjir banget lu bisa kenal ama dia gimana ceritanya coba?" Meily bersemangat melahap gibahan yang masih hangat baru diangkat dari tungku wajan.
"Tadi malem gue kan ke karnaval pasar malam apa lah itu ga jelas yang horor itu... Nah Devan ngajak aku keluar dari tempat itu... Cuma aku merasa aneh dan dia juga mukanya kaget juga soalnya aneh aja sih pengalaman di situ..." Kahiyang bingung menjelaskan.
"Lu masuk pasar setan dunia lain?" Elsa menegaskan.
"Nah!" Kahiyang setuju.
"Ga heran cok, malam haloween gerbang dimensi lain emang kebuka makanya para penyihir asli di Eropa ga nyuruh anaknya keluar rumah soalnya para hantu gentayangan malah orang awam datang ke rumah penyihir yang asli untuk berkunjung, itu lah haloween Beibz!" Meily membenarkan kacamatanya yang melorot.
"Kenapa acara itu viral dan tiap tahun selalu ramai soalnya jika kamu nemu jodoh di situ maka bakalan awet dan langgeng, itu sih konon katanya yang udah menjalani!" Underlined Elsa.
"Wah, ga mungkin kalo Kahiyang sama Devan asli beda kasta... Kahiyang cewe polos kayak gini sama Lord Devan yang ih waw, ga habis pikir gue!" Ejek Meily.
"Lah! Iya kah? Sekeren apa sih dia?" Kahiyang jadi ga terima.
"Devan itu ga banyak omong, cuannya yang bicara! Ortunya berpengaruh guys, gila gila aja!" Meily nyerocos.
Elsa memutar bola matanya, "namanya jodoh yah udah diatur so what gitu loh ya kalo ada kode digas aja ngapain harus takut sama garis takdir keturunan, bloon!"
"Helow wanita pejuang cinta sejati, sakit! Makan itu cinta! Berkali-kali kapan sadar lu, nona!" Meily dan Elsa pun kembali adu mulut pagi itu hanya karena bahas masalah cinta yang Meily tidak pernah percayai eksistensinya di planet ini.
"Devan..." Kahiyang tidak peduli dengan dua temannya yang debat kusir, dia balik badan ke hadapan papan tulis dan berharap bisa bertemu dengan pemuda populer di SMA Horizon itu lagi.
Pulang sekolah, Kahiyang ke tempat parkir memeriksa apakah motor Devan masih ada di sana dan ternyata sudah tidak ada. Kahiyang menghela nafas panjang.
"Gak jodoh mungkin." Gumam Kahiyang kemudian berlalu menuju kantin karena lapar, tiba-tiba ingin makan mie ayam bakso sebelum pulang.
"Eh?" Kahiyang melotot, Devan dan kawan-kawan bandnya ada di sana sedang makan.
Kahiyang bersemangat berjalan mendekati mereka, "Bang Devan?!" Sambil tersenyum.
"Ka..hiyang?" Devan mengangkat satu alis berusaha mengingat nama gadis itu.
"Huum, Kahiyang!" Angguk gadis itu.
"Weh udah ganti cewe lagi lu bred, yang kemarin mana?" Ledek salah satu teman se-band Devan.
"Mana ada." Tukas Devan.
Yang lain mulai mengalihkan pembahasan supaya Devan tidak terganggu, Kahiyang menghela nafas.
"Jangan dengerin mereka emang gitu, ada apa?" Nada Devan serius.
"Ehm, soal tadi malam..." Kahiyang jadi gugup karena tidak punya tujuan pasti, dia hanya ingin tahu lebih jauh tentang Devan lebih tepatnya ingin ngobrol bareng.
"Oh, iyah..." Devan berdiri.
"Mau kemana we?" Tanya salah satu teman Devan yang di samping kursinya ada tas gitar listrik.
"Bentar aku mau ngomong dulu sama adekku!" Devan singkat.
"Apa itu adek?"
"Piwh! Yakin adek?!"
"Kebanyakan adek! Hahaha!" Canda kawan-kawannya.
"Bacot lu genk!" Devan tertawa sambil meggandeng Kahiyang menjauh.
Kahiyang sedikit tenang karena tangan Devan.
"Ada apa?" Devan bertanya pelan.
"Emh, aku takut dengan efek tadi malam, aku masih kebayang-bayang sampai sekarang." Kahiyang menggigit bibirnya sambil melirik ke arah lain dengan muka sedikit tertunduk gugup.
"Ntar abis aku ngeband kuanter pulang deh, tapi jangan banyak ngomong ama kawanku ya!" Devan berbicara pelan.
Kahiyang menunduk sambil menganggukkan senyum.
"Yuk makan, aku lapar pesen lah! Ntar aku bayarin." Devan berjalan cepat ke kawan-kawannya lagi.
Kahiyang berjalan ke ibu kantin dan memesan makanan yang sedari tadi dia idamkan juga minuman teh botol dingin kesukaannya.
Bab 3 PERLAKUAN ISTIMEWA
"Sini Dek!" Panggil Devan supaya Kahiyang duduk di dekatnya.
"Anjay gercep kali Lord Devan ini kalau urusan perbucinan ya!" Ejek si kawan.
"Eh bloon, mau ngomongin masalah Reyzal sama Gea ini cok!" Bisik Devan.
"Eh?" Semua cowo itu saling bertukar pandangan.
"Kenalin ini kawan gue semua dari SMP, Ruben Rythm, Kay drummer, Joshua melodis, gue vokalis dan Reyzal itu bassis kita!" Devan sedikit membungkuk karena Kahiyang.
"Ooh?" Kahiyang jadi cepat paham situasinya sekarang.
"Ini Kahiyang, dia merekam kejadian tadi pagi pas gue kotbah depan anak-anak SMA lain dan sekarang kita semua otw viral, mulai dari sekolah sampe ortu kita dan kalian musti bantu berpikir!" Devan tidak memperjelas omongannya karena pasti semua orang sudah paham maksudnya.
"Bisa malu kita semua, bangsat!" Umpat Kay.
"Kenapa gua speak up karena Gea sering diancam dan dianiaya..." Jelas Devan.
"Astaga Dev itu ga cuma Kahiyang kan yang megang hape di situ pastinya?" Joshua memukul meja sedikit keras.
"Yes!" Jawab Devan.
"Mampus udah kesebar!" Ruben mengusap muka.
"Lord Devan... Lord Devan... Bertindak suka-suka trus gimana nih?" Kay menghela nafas panjang.
"Tapi jangan salahin bang Devan juga bang, fokusnya orang ga bakalan ke sekolah ini doank kok apa lagi ke band kalian... Kita bisa bikin cara supaya orang fokusnya ya ke kesalahan si Reyzal aja gitu..." Usul Kahiyang.
"Caranya?" Ruben sedikit mendekatkan wajahnya ke Kahiyang sambil mengernyitkan alis.
"Kita sebar busuknya Reyzal tapi jangan dari bang Devan lagi, dari siswa sekolah lain aja yang kenal Gea atau Reyzal..." Cermat Kahiyang.
"Gue suka nih, ide bagus nih! Menyelesaikan masalah dengan nambahin masalah, gara-gara si anjing Reyzal ini!" Kay menepuk jidat.
"Hahaha! Bagus kalau gitu, gue ada kok kawan, tenang... Seluk beluk Rey gue pegang semua apa lagi Gea kan selalu curhat ke gue... Gue bisa tanya-tanya ntar... Jadi... Dek.." Devan yang awalnya melihat kawannya kini menoleh ke Kahiyang yang menatapnya.
"Apa Bang?" Kahiyang terlihat selalu ada akhir-akhir ini.
"Makasih ya, tolong ke depannya bantu aku urus masalah ini, maaf kamu jadi repot..." Devan sepertinya ingin berbicara lagi.
Kahiyang mengangguk ingin menyimak.
"Setelah Gea ntar kasih tahu ke aku siapa aja kawannya, kamu ngobrol sama kawan Gea buat bantuin Gea... Ga mungkin kan Gea yang mengerahkan, dia bisa dibunuh Rey ntar... Gue yang pasang badan melindungi kamu... Dan itu bisa jadi alasanku buat bikin perkara jalur hukum kalau Rey sampai melakukan hal jauh!" Ikrar Devan.
"Anjir, gombalan paling ganas Lord Devan!" Kay menggeleng kepala dan kawan lain terkekeh.
"Mulai sekarang aku dan kamu pacaran!" Devan senyum ramah.
"Oh whaaat?!" Kahiyang melotot.
"Bukan nanya mau kah kau jadi pacarku tapi memutuskan jadi pacar, anjer lah Lord Devan!" Timpal Ruben terngakak menepuk-nepuk bahu Joshua.
"Anjay mencari kesempitan dalam kesempatan, cok sekali!" Sanggah Joshua ngakak.
"Diam lu bacot komentator!" Singkat Devan tapi bikin suasana semakin cair karena tawa kawannya semakin renyah mengalir, mengalihkan stres yang berimbas jangka panjang.
"Oke!" Jawab Kahiyang tanpa cemas.
"Anjenk... Abis ini ganti bukan manggil adek-abang lagi, udah ganti sayang!" Kay nahan sakit perut.
"Sayangku mana?!..." Ruben terpingkal-pingkal.
"Jangan sampai ayah-bunda abis ini!" Joshua terkekeh.
"Babi lu pada ga bisa menikmati suasana romantis apa?" Celetukan Devan justru membuat semakin gelak tawa kawan-kawannya.
"Hahaha... Sayangku Lord Devan..." Kahiyang uji coba.
Membuat pipi Devan yang cool dan dingin tumben memerah.
"Nah loh! Lord Devan malu! Hahaha!" Goda Kay sambil menunjuk pipi Devan.
"Bangsat emang kalian semua ya babi!" Devan pun tak bisa menahan lagi gengsinya untuk tertawa di hadapan Kahiyang.
"Hahaha..."
Siang itu berjalan penuh dengan semangat bagai api berkobar di jiwa para remaja itu. Hingga akhirnya Kahiyang jadi menemani Devan nge-band dan pulang berdua saja dengan Devan.
"Kenapa?" Kahiyang, Devan memasangkan helm teropongnya ke kepala Kahiyang.
"Besok aku bawa dua helm, mulai sekarang aku jemput kamu.." Devan tidak mengenakan helm dan hanya memasang masker mulut di wajahnya, dia menaiki motornya.
Disusul oleh Kahiyang naik motor Devan dengan perasaan ter-uwu.
Bab 4 MISTERI YANG RUMIT
Keduanya menuju rumah Gea yang lumayan jauh dari SMA Horizon.
Setelah sampai di rumah Gea, "assalamu alaikum! Gea!" Panggil Kahiyang sebab Devan yang meminta supaya Kahiyang yang mengaku sebagai tamu.
"Waalaikumsalam..." Seorang ibu agak tua membuka pintu rumah.
"Bu, Gea-nya ada?" Tanya Kahiyang.
"Oh, Nak Devan.. ini siapa?" Ibu itu malah bertanya ke Devan yang sudah pura-pura cuek.
"Pacar saya Bu, Kahiyang." Singkat Devan.
Ibu itu terlihat menghela nafas melihat wajah Kahiyang, sontak membuat Kahiyang memeriksa wajah Devan dengan penuh tanda tanya tapi Devan justru tersenyum manis ke Kahiyang.
"Cantik banget pacarnya... Yuk silahkan masuk..." Ibu Gea mempersilahkan masuk.
"Gea akhir-akhir ini sering mengurung diri di kamarnya dan tidak pernah keluar sama sekali, dia bahkan tidak menyapa ibu sama sekali..." Keluh si ibu.
"Ibu yang tenang ya pasti nanti dia mau bicara sama saya..." Kahiyang menenangkan ibu Gea sambil mengelus punggung ibu Gea.
"Gea... Ada temanmu mau berkunjung?" Ibu Gea membuka pintu kamar Gea.
"Siapa?" Tanya Gea lemas.
"Ada bang Devan sama pacarnya..." Kata ibu Gea.
"Pacar bang Devan?" Gea terkaget, sejak kapan Devan yang tidak suka pacaran jadi punya gebetan.
Gea bangkit dari ranjangnya dan melihat siapa yang datang, "oh..." Gea merasa tidak asing.
"Iya, ini kakak yang kemarin sama bang Devan..." Gea mengiyakan.
"Boleh masuk Bu kami mau mengobrol..." Kahiyang sangat baik hati, dia empati dengan apa yang Gea alami dan ingin segera membantunya dengan tulus.
"Iya silahkan" ibu Gea menjauhi mereka dan menuju dapur untuk kembali sibuk.
Kahiyang melihat Devan dan pemuda itu mengangguk pelan, gadis bersuara serak nan seksi itu menggandeng tangan Devan memasuki kamar Gea.
Gea melihat mereka berdua duduk di lantai dengan saling berdekatan dengan tatapan seperti belum percaya jika Devan bisa punya cewe.
"Kalian beneran jalan?" Gea duduk di lantai sambil memegangi perutnya.
"Iya" singkat Devan.
"Kenapa kamu manggil dia abang kan kalian seumuran?..." Kahiyang membuka topik.
"Bang Devan dulu pernah ga naik kelas karena ikut orang tuanya keluar negeri makanya dia disebut Lord Devan di kelas karena selain paling senior tapi emang gaya hidupnya gacor banget hehe..." Gea untuk pertama kalinya jadi tertawa setelah beberapa lama hanya mengalami kesuraman.
Mengamati itu Devan melirik Kahiyang sambil tersenyum tipis, dia menilai kepribadian Kahiyang yang sederhana tapi bisa membawa perubahan lebih baik ke sekitarnya meski pun itu semua kebetulan. Devan yakin bahwa Kahiyang adalah sosok cewe baik.
"Kamu punya sahabat ngga waktu SMP? Teman curhat gitu..." Kahiyang mencoba buka obrolan lebih serius.
"Teman curhat SMP?" Gea memutar pandangannya.
Kahiyang dan Devan saling memandang.
"Ada sih, namanya Sonya.." kata Gea.
"Jauh ya rumahnya?" Gea ramah.
"Lumayan, dia sekarang sekolah di kampung biar murah katanya... Udah berpisah lama banget kami..." Tutur Gea sambil melihat ke Kahiyang dengan tatapan lesu.
"Jangan pundung, kami akan membantumu... Desa mana namanya siapa tadi... Sonya ya?" Kepo Kahiyang dengan antusias.
"Desa Sukadamai namanya Sonya cucu Haji Shaleh..."
"Gea, yaudah kami pulang dulu!" Devan memotong pembicaraan Gea.
"Ah, oh iya Bang..." Gugur Gea.
"Ish..." Kahiyang melotot manja ke Devan.
"Udah sayang ayo pergi aku masih harus ngurus kawan lain, yuk!" Devan senyum kecut lalu kembali pasang wajah cuek.
"Uh, iya deh! Yaudah Gea semoga lekas membaik ya, kami pulang dulu!" Kahiyang ramah singkat lalu terburu-buru berjalan meninggalka Gea karena Devan sudah duluan berjalan meninggalkan kamar Gea.
Sesampainya di luar rumah, tanpa bicara apa pun Devan naik motornya disusul Kahiyang.
Setelah melesat melewati beberapa gang, Devan membawa Kahiyang ke sebuah kafe terbuka di pinggir pantai dekat kota.
Devan mengajak Kahiyang duduk sambil memesan minuman dingin dengan melambai ke pelayan, hari sudah menjelang sore dan Kahiyang tahu Devan menyimpan sesuatu.
"Ada apa Bang? Kenapa tadi..."
"Aku ini pacarmu sekarang ingat, jadi jangan percaya sama yang lain..." Devan bersandar di punggung kursi kafe.
"Ada apa sih?" Kahiyang benar-benar penasaran dengan maksud Lord Devan itu.
"Gea itu tidak serius ingin ditolong!" Devan pecahkan misteri.
"Hah? Gak mau ditolong?" Kahiyang memegang jidatnya.
"Kamu ga lihat gelagat wajah dia aneh gitu? Dia bahkan ga ada antusias sama sekali untuk kita tolong!" Devan curiga.
"Kok kamu negthink sih Yank!" Kahiyang peka dengan kode Devan yang sekarang tidak mau dipanggil Abang barusan.
Devan tiba-tiba meraih tangan Kahiyang dan megecupnya. Membuat Kahiyang kaget karena selama ini dia berpikir Devan dan dia hanya pura-pura pacaran.
"Aku tahu kamu cewe yang tepat buat aku sekarang! Aku mau kita serius, semakin aku mengenalmu aku semakin tahu sifat aslimu dan aku bersumpah akan melindungimu dengan nyawaku taruhannya!" Devan memandang Kahiyang lekat-lekat.
"Ko bawa-bawa nyawa sih, Yank!" Mata Kahiyang berkaca-kaca.
"Aku merasakan ada bahaya di masa depan sedang mengintai." Devan memasang mata serius.
"Dan bahaya itu adalah gua!" Suara Reyzal di belakang Devan terdengar nyaring.
Pelayan baru saja datang membawa minuman namun gelas itu diambil Reyzal dan disiramkan ke Kahiyang.
"Hah?" Kahiyang syok.
"Bajingan!" Devan menggebrak meja dan berdiri lantang mendekati Reynal.
"Gua bilang sama loe ya bangsat, bukan gua yang merkosa Gea!" Tunjuk Reyzal.
"Jelas-jelas eloe, tolol!"
"Buk!" Mendarat bogem ke pelipis Reynal dari Devan.
"Anjing lu diajak bicara baik-baik ga mempan emang anak monyet!" Reynal mengangkat tongkat yang dia bawa dan mengayunkannya ke Devan.
Devan menghindar dan menendang perut Reynal, "b*nci bacot! Pake tangan kosong kalo lu punya kont*l!" Bentak Devan.
"Sialan!" Reynal membuang tongkatnya dan meroketkan tinjunya.
Devan dan Reynal adu jotos sengit di hadapan para pelayan dan penghuni kafe yang sedang menunggu polisi datang.
"Sudah sudah nanti kalian ditangkap polisi! Ada yang nelpon polisi!" Teriak Kahiyang.
"Biar ditangkap ini pemerkosa!" Devan sengit bergulat dengan Reynal.
"Gua juga bisa penjarain elu atas kasus pencemaran nama baik, kont*l!" Reynal tidak terima.
"Gue punya buktinya! Tes aja DNA bayinya Gea!" Devan mengeraskan suaranya sambil mengunci gerakan Reynal.
"Gea itu gila! Dia gak hamil! Dia pura-pura hamil biar elu yang nikahin dia!" Reynal teriak sampai serak kehabisan suara.
"Apa?" Devan melempar Reynal ke pasir pantai.
"Apa?!" Kahiyang berlari mendekati Devan yang sudah berdarah luka.
"Ya! Gea itu nyuruh gue buat buntingin dia dan bakalan jebak Devan biar dia bisa nikah ama Devan, karena dia terobsesi sama Devan!" Reynal berusaha bangkit.
"Lu mau ngadu domba gue dan pacar gue, Cok!" Devan mendengus kesal.
"Tapi gue menolak dan justru dia mengancam akan bunuh diri dan meninggalkan surat bahwa gue yang bunuh Gea, makanya gue pukulin dia biar sadar, eneg gua ama Gea!" Suara Reynal sangat serak kehabisan nafas karena dipiting oleh Devan.
"Maksudmu apaan ini? Ada buktinya gak?!" Kahiyang jadi emosi.
"Ada! Nih lu baca chat-an gue ama Gea semuanya masih lengkap di whatsapp gue!" Reynal megeluarkan ponselnya.
"Wiw wiw wiw!" Sirine polisi datang.
Reynal dan Devan tidak terlihat takut, semua pelayan dan pengunjung yang sedari tadi menyaksikan terus mengawasi karena merasa penasaran.
"Katanya ada keributan! Mana biang keroknya!" Seorang aparat melihat dua pemuda bersimbah darah di wajahnya akibat adu tinju, melihati mereka satu persatu.
"Dia utang sama saya Pak!" Kata Devan.
Polisi itu menoleh ke Reynal yang mengusap darahnya.
"Betul?" Polisi itu.
"Iya, barusan dia tagih, udah saya bayar Pak! Sudah selesai." Jawab Reynal.
Polisi yang terlihat sedang sibuk itu tidak berkata apa pun dan menuju ke pelayan kafe untuk menanyai adakah kerugian yang ternyata tidak ada sebab minuman pesanan Devan tadi juga sudah dibayar oleh Kahiyang saat ada perkelahian.
Dengan begitu, polisi itu berlalu meninggalkan kafe. Dan pelayan itu justru heran sebab ketiga anak muda itu justru duduk di meja lain dan saling berbicara bahkan Reynal memesan minuman dingin ke pelayan.
"Dasar biang kerok!" Pelayan geleng kepala bukan main dengan anak jaman sekarang.
Kembali ke suasana serius masalah Reynal dengan Gea. Devan dan Kahiyang menyimak dengan seksama.
"Jadi, semenjak Gea masuk SMA Horizon dia itu pengen banget dapetin Devan tapi dicuekin dan makin ke sini makin gila dia..." Reynal matanya semakin bengkak berwarna biru lebam bekas jotosan Devan.
"Tapi malam itu?" Devan yang mimisan memasang muka serius.
Kedua remaja itu terlihat sangat konyol setelah berkelahi balik akur hanya dalam beberapa detik tanpa sakit hati, ini membuat Kahiyang terkesan.
"Gea tahu lu bakalan lewat situ, Njing! Lu tu di hadang, lu mikir dia baju sobek-sobek ga makai celana dalam, itu buat goda elu, merasa tak berdaya desah-desah sakit, Anjing lu masa ga peka! Dia ngumpet sebelum itu. Ya kali dia berlarian di jalan kaya' gitu ya sudah pasti dibuntingin preman situ lah!" Reynal menimpal.
"Anjing!" Devan mengernyitkan jidat.
"Gini amat sih! Aku ga suka!" Kahiyang menyilangkan kedua tangannya ke depan.
"Sayang! Aku tuh cinta sama kamu!" Devan bernada serius.
"Hh?" Kahiyang menelan ludah.
"Devan ini gak pernah pacaran, lu satu-satunya cewe yang baru ini gue tahu dari dia!" Reynal secara tak langsung mempromosikan kawannya.
"Makanya ibu Gea kaget aku punya pacar!" Devan menguatkan alibi.
"Aku tuh ga berharap kita yang punya masalah, mauku nolong orang its okay tapi kalau hubungan banyak drama halangan rintangan kaya' gini aku males jalaninnya, takut sakit! Takut kehilangan! Takut terjadi hal gak baik-baik saja tahu ga sih!" Mata Kahiyang mulai berkaca-kaca.
"Yank, hidup itu gak ada yang mulus mirip jalan tol, justru adanya setipis tisu, gampang bikin putus asa. tapi seribu lembar tisu itu bisa sekuat kardus, bayangin kalau kita bersama-sama!" Devan.
"Anjir, Lord Devan berkotbah!" Timpal Reynal.
"Hihihi..." Kahiyang terkekeh.
"Apa pun ujiannya Sayang! Apa pun! Mau sutradara dan menulis apa pun Sayang! Tisu sekuat kardus itu hanya bisa dibakar oleh api cemburu antara kamu dan aku! Jadi jangan terlalu cemburu Sayang! Kita bicarakan sebaik mungkin... Semua ada jawabannya!" Hibur Devan.
"Kelas, Cok... Cok!" Reynal terkekeh.
"Ini masalahnya berurusan sama orang gila ini! Makanya harus apa kita sekarang!" Umpat Devan kesal.
"Coba lu bicara sama Gea mau dia apa dan tolakan dari lu mungkin bisa bikin dia akhirnya sadar gitu loh!" Problem solving Reyzal.
"Ok, gue coba..." Devan mengambil ponselnya dari saku celana dan menelpon Gea.
"Ga sabaran banget!" Kahiyang manyun.
"Itu lah Lord Devan, segalanya ingin cepat beres! Bagus lah!" Reynal menyeruput es jus jeruknya yang baru tiba.
Devan me-loud speaker setelah panggilannya diangkat oleh Gea.
"Halo Gea... Ini aku Devan!"
"Oh iya Bang ada apa?"
"Lu suka sama gue ya?"
"Oh, kenapa Abang nanyanya kaya gitu?"
"Udah jawab aja aku ga punya banyak waktu nih..."
"Sejujurnya sih iya..."
Jawaban dari Gea membuat puncak emosi Kahiyang hampir meledak namun tangan Devan meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat untuk meyakinkan Kahiyang bahwa hanya Kahiyang yang ada di hatinya.
"Tapi sekarang kan Abang udah ada pacar"
"Gimana caranya lu bisa sama gue sementara lu aja sekarang lagi hamil gini?"
"Ini bisa aku gugurin!"
"Gugurin? Gimana kalau setelah gugur, pacar gue ga mau lepasin gue?"
"Ya gue santet, gue tumbalin ini janin buat modal nyantet dia deh, ribet amat..."
"Lu udah gila lu ya!"
"Hahahhaa..... Hahaaha.... Ya emang udah tergila-gila ama Abang!"
"Ngeri lu psikopat! Gak bisa gue suka cewe tipe kaya' lu... Sadis!"
"Loh kenapa Bang? Kirain tadi bercanda doank, aku cuma lagi stres aja ini Bang, ngelantur!"
"Ga ada! Itu lah isi otak lu yang sebenarnya."
"Gue nungguin Reyzal Bang... Reyzal..."
"Lu aja pura-pura hamil lu curhat ke gue hamil dipukulin Reyzal jadi lu mau gugurin apa, janin tikus?!'
"Hahahahah... Ko tau sih aku ga hamil Bang?! Hebat Lord Devan ya!"
"Gila gila lu, orang di luar sana pura-pura gila biar ga diajak gila, eh lu gila beneran ngajak-ngajak gila orang! Stres!" Devan mematikan panggilannya dan memblokir nomor Gea.
"Serem kan?" Reyzal nyengir.
"Kalau udah begini, gimana cara ngatasinnya?" Kahiyang lemas.
"Akan kuurus yang satu ini sendirian." Devan bangkit dari duduknya.
Reyzal dan Kahiyang menyusul berdiri dan berjalan ke parkiran. Mereka menaiki motor dan menuju rumah Gea.
Bab 5 MISTERI TERSIBAK
"Tok tok tok! Assalamu alaikum!" Devan terdegar tegas mengucap salam sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam" jawab ibu Gea.
"Gea ada Bu?" Devan dingin.
"Ada, dia sedang mengamuk di kamar!" Ibunya panik.
"Ibu tenang ya..." Kahiyang mengelus bahu ibu Gea.
Devan dan Reyzal menuju kamar Gea.
"Gea buka pintu!" Devan mencoba mengguncang gagang pintu yang terkunci dari dalam.
"Hahaha?" Gea membuka pintu dengan penampilan kacau.
"Parah kau Gea!" Reyzal geram.
"Aku diperkosa genk di gang itu gara-gara dia!" Tunjuk Gea ke Devan.
"Gila kau mana buktinya?!" Reyzal menepuk tangan Gea supaya di turunkan.
"Ini!" Gea menunjukkan tespek.
Ibunya tercengang dan pingsan, "Bu! Aduh!" Kahiyang panik.
Reyzal pergi ke ibu Gea dan menggendongnya ke sofa.
"Siapa namanya?! Aku gak mau ya kau usik hubunganku sama Kahiyang cuma karena masalah yang kau buat-buat sendiri ini!" Marah Devan.
"Maafin aku Devan!" Gea bertekuk lutut.
"Kau ini malu-maluin muka banyak orang tahu!" Devan tak habis pikir.
"Gerald, ketua genk itu!" Gea menangis.
Kahiyang sudah kehilangan empati dan memandang Gea dengan penuh kebencian.
"Gila kau, dia musuhku!" Devan berkacak pinggang sambil mendengus kesal menahan marah.
"Gerald itu pernah mencegatku saat pulang sekolah juga!" Kata Kahiyang.
"Tenang Sayang!" Devan berlalu keluar rumah dengan tangan mengepal.
"Sebenarnya Devan tidak akan mendatangi Gerald kalau bukan karena Kahiyang, tahu!" Bentak Reyzal ke Gea.
"Kau beruntung begitu berharga bagi Devan..." Gea tertunduk di lantai.
"Buat lah dirimu bermartabat! Kau itu perempuan! Jangan mengemis cinta sana-sini..." Kahiyang berkata dengan hati bergetar sambil meninggalkan Gea yang mengucurkan banyak air mata.
"Gerald memang sudah keterlaluan dari dulu tapi aku selamat darinya..." Kata Kahiyang dan itu membakar emosi Devan.
"Kita datangi mereka?" Reynal tak tahan lagi.
"Kita selesaikan sekarang juga!" Devan memakai helmnya setelah Kahiyang naik di belakangnya lalu malam menjelang dan mereka ke gang markas genk Gerald berada.
Betapa kagetnya Gerald saat melihat suara motor Devan datang.
"Suara knalpot motor ini?" Gerald melirik dan benar saja...
"Devan!" Gerald berdiri disusul anak buahnya yang tadi berleha-leha.
"Udah berapa cewe yang lu buntingin, Bangsat!" Sapa Devan.
"Hihihihi.... Kau mau jadi pahlawan ya?" Gerald terkekeh disusul yang lain.
"Aku gak pernah sentuh cewe itu, cuma godain doank! Jangan percaya sama mulutnya! Ular betina itu! Sini kukasih dia pelajaran!" Pancing Gerald.
Devan kini semakin mengiyakan kejujuran Kahiyang, dia yakin gadis ini adalah cinta sejatinya.
Gerald dan Devan kini berdiri saling berhadapan dengan sekitar sepuluh anak buah Gerald yang mengepung mereka berdua.
"Aku gak pernah nodai cewe itu!" Tegas Gerald.
Devan hanya menatapnya dingin.
"Aku ga akan usilin dia lagi kalau dia lewat aku janji padamu!" Ucap Gerald sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Kita selesaikan masalah lama kita!" Kata Devan.
"Oh, itu... Jadi untuk itu kau datang!" Gerald.
"Jika aku menang kau nikahi korbanmu dan berhenti bikin kerumunan yang meresahkan masyarakat ini dan jika kau menang aku angkat kaki dari sini." Devan tegas.
"Lord Devan! Aku dengar itu julukanmu, membela yang tertindas dan melakukan apa yang diinginkannya dan selalu bisa... Huh... Baik lah mari kita coba!" Gerald.
"Satu lawan satu dan tangan kosong!" Devan.
Gerald berlari mengantarkan kepalan tangannya dan Devan menggiring pukulan itu dan langsung mematahkan sikunya ke tengkuk Gerald sampi Gerald tersungkur.
Melihat bosnya terguling ke tanah, anak buahnya tidak terima dan mengeroyok Devan.
"Devan!" Pekik Kahiyang tapi Reyzal menarik Kahiyang ke belakang.
"Dia bisa urus ini sendirian!" Reyzal meyakinkan.
Devan menggunakan kakinya untuk meninju dagu beberapa pemuda dan tangannya mengepal memukul lengan anak buah Gerald yang melaju ke mukanya.
Devan dengan bengis tidak segan-segan mematahkan leher pemuda yang masih keras kepala maju melawan setelah tersungkur.
Gerald bangkit dan menyerang dengan tongkat tapi Devan menendangnya dengan tungkal kaki dan memelantingkan benda itu jauh, melompat dan menendang kepala Gerald.
"Aku tidak suka berlama-lama!" Singkat Devan.
Gerald muntah darah.
Dengan keji Devan memasang wajah dinginnya dengan tatapan mata menjatuhkan, "aku ingin kau melakukan kesepakatan dariku tadi."
Devan menarik kaki Gerald dan menaiki motornya, menyeretnya sepanjang jalan ke rumah Gea dan menendang pintu rumah Gea sampai terbuka.
Gerald yang telah lemas itu di bawa ke depan ibu Gea. Gea yang sudah kacau dan tengah duduk di ruang tamu dengan ibunya itu syok.
"Lakukan apa yang harus kalian lakukan!" Devan.
"Sudah cukup Devan!" Kahiyang memeluk Devan dari belakang seerat mungkin.
Gea bertekuk lutut, "maafkan aku Kahiyang!"
Gerald yang lemas oleh perlakuan Devan membalik badannya dan meraih sepatu Devan, "aku akan menikahinya dan maafkan aku tentang masa lalu kepada kawan-kawanmu..." Rintihnya.
"Sudah cukup Sayang!" Kahiyang menangis sesenggukan menyabarkan kekasihnya itu.
"Jika bukan karena Kahiyang, kelakuan kalian ini tidak kuampuni." Dingin Devan.
Devan meraih tangan Kahiyang dan berbalik badan, mengajaknya untuk kembali naik motor, sementara Reyzal masih duduk di motornya karena yakin ini akan sebentar saja jika berurusan dengan Devan.
Mereka bertiga akhirnya melaju dengan motor gedenya ke sebuah tempat dimana biasanya Devan ngumpul bersama kawan-kawan bandnya.
Lapangan basket dekat alun-alun kota, di sana teman sepermainan Devan berkumpul.
"Devan? Reyzal?!" Kay berhenti mendrible bola basketnya.
Semua kawan di lapangan itu bingung dengan apa yang terjadi, kedua wajah pemuda itu bengep parah dengan darah mengering.
Joshua melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah delapan malam.
"Ada apa, Men?!"
"Gea gak bunting, Reyzal difitnah! Yang buntingin Gea itu Gerald tapi Gerald menggunakan namaku untuk balas dendam karena gak terima kalah dari kita kemarin!" Gagas Devan.
Kahiyang tercengang Devan menyimpulkan sesederhana itu atas segala kerumitan ini.
"Jadi?" Ruben membagikan botol mineral kepada Reyzal dan Devan.
"Udah kelar semua diberesin Lord Devan! Hah!" Reyzal membanting badan ke rerumputan.
"...?" Devan menoleh kepada Kahiyang.
"Kau benci dengan aku yang seperti ini?" Devan tanpa ekspresi.
"Aku tidak menemukan hal buruk apa pun darimu yang sangat setia kawan dan tulus membantu orang lain, bagiku semua pengalaman ini membuatku semakin mengenal kepribadianmu yang baik..." Kahiyang menatap Devan dengan sedikit mendongak karena Devan tinggi.
"Begitu kah?" Devan berkata serius tanpa senyum.
Semua kawan lebih memilih mendekat ke Reyzal agar tidak mengganggu Devan yang sedang serius.
"Dari caramu naik ke menara itu saat parade Haloween... Kau itu pengamat yang ulung dan bagimu sangat mudah menemukan jalan keluar masalah dengan sederhana dan cepat... Kau itu cerdas!" Kahiyang berkata jujur dengan segala pengalamannya bersama pemuda introvert itu.
"Aku awalnya tidak berpikir bahwa akan sejauh ini juga mengenal dirimu yang sebenarnya... Kau itu innocent tapi semua masalah bisa selesai dan reda oleh mu tanpa memakai emosi... Aku butuh pasangan sepertimu." Devan meraih dua tangan Kahiyang.
"???" Kahiyang mengamati Devan.
"Mau kah kau menerima perasaanku ini untukmu?" Nada Devan rendah.
Kahiyang tersentuh dan air mata mengalir lembut di ujung matanya, "orang sebaik kamu di dunia ini.. sangat langka... Aku tidak terima jika kau jatuh di pelukan orang yang mementingkan dirinya sendiri.. dan aku pun semakin lama semakin nyaman dan aman di sisimu... Kau membuat dunia yang selama ini bagiku terasa asing... Menjadi tempat hangat bagiku asalkan kau ada di sisiku menggandeng tanganku kemana pun kita pergi..." Kahiyang terisak.
"Ssst..." Devan mengelap air mata di pipi Kahiyang dengan lembut dan memeluknya.
Teman-teman band Devan tersenyum tipis melihat si Lord akhirnya menemukan gadis yang dia inginkan setelah sekian lama mengosongkan hati karena telah letih menjalani pengalaman pahit sebagai anak laki-laki.
Entah ada angin apa, namun ada selembaran yang terbang dari langit jatuh di dekat mereka berdua, dan suara gemerisiknya membuat Devan melepaskan dekapannya dari Kahiyang.
Kahiyang yang juga melihat kertas itu akhirnya mengambil dan membaca tulisannya.
"Pasar malam Haloween sesi ke dua akan segera hadir di alun-alun depan kantor walikota, datang bersama pasanganmu dan dapatkan hadiah gratis dari sana yang pasti akan kau sukai?" Kahiyang membacanya dan langsung menoleh ke Devan.
"Kau berani ke sana lagi?" Devan kalem.
"Kalau sama kamu aku mau..." Jawab Kahiyang.
"Hmh..." Devan tersenyum tipis sambil megedipkan satu mata.
Kahiyang tersenyum lebar menunjukkan giginya yang manis.
Bab 6 KEMBALINYA PESTA HALOWEEN
Keesokan malamnya Devan dan Kahiyang ke tempat pameran haloween lagi dan di sana pemandangannya berbeda, ada banyak wahana bermain bersama ala pasangan-pasangan.
Devan dan Kahiyang sekarang memakai tato temporer di sekujur tubuh mereka dengan kostum gothic cyber punk serba hitam. Mereka bergandengan tangan dan mengedarkan pandangan.
Devan mengajak Kahiyang menaiki wahana bianglala namun saat sudah berputar beberapa kali dan tiba ayunan mereka berada di ujung atas bianglala itu berhenti dan lampunya yang warna-warni berhenti menyala.
"Sayang aku takut!" Kahiyang memegang erat tangan Devan.
"Memang begini konsepnya, lihat lampu kota ini!" Tunjuk Devan menenangkan kecemasan Kahiyang.
Kahiyang tersadar dengan momen romantis ini dan hanya ada mereka berdua.
"Aku akan selalu ada untukmu," Devan mengecup kedua tangan Kahiyang.
"..." Kahiyang tersenyum haru dengan tersipu.
"Kalau aku sudah tua dan jelek apa kamu masih mencintaiku?" Rewel Kahiyang.
"Maka aku lebih keriput darimu bukan?" Jawab Devan dengan pertanyaan retorik.
Kahiyang tersenyum semakin lebar dengan jawaban itu.
Lampu warna-warni menyala kembali dan bianglala berputar kembali menurunkan mereka
Kemudian seorang panitia penyelenggara acara Haloween datang mendekati mereka.
"Devan dan Kahiyang?" Tanyanya.
"Ya, ada apa?" Jawab Devan.
"Karena kalian memenangkan penilaian kostum pasangan haloween terbaik... Jadi ini adalah hadiahnya untuk kalian berkenan..." Panitia itu menyerahkan sebuah kotak hitam kepada Kahiyang kemudian pergi begitu saja.
"Te..terima kasih" sungkan Kahiyang.
"Aku lapar, ayo kita ke tempat lain, hadiahnya sudah dapat kan?" Bisik Devan.
"Iya ayo!" Kahiyang paham maksud sejati di balik bisikan Devan itu.
Mereka bergandengan tangan dan bergegas ke parkiran kendaraan dan sesampainya di depan motor Devan, mereka menoleh ke belakang bersamaan.
"Lihat kan!" Devan menggandeng tangan Kahiyang erat.
"Alun-alunnya kosong!" Kahiyang merangkul lengan Devan.
"Ayo!" Devan memasangkan helm ke kepala Kahiyang kemudian naik motor sambil mengenakan helmnya.
Mereka menuju sebuah rumah makan bernuansa rock and roll milik teman Devan.
"Wih, Brother!" Kagum kawan Devan dengan penampilan nyentrik Devan yang senada dengan Kahiyang.
"Ada acara tadi, Sodara!" Devan berlalu memilih meja sambil tersenyum sopan.
Kahiyang tersenyum ramah sambil menuruti Devan yang menggandengnya untuk mencari tempat duduk.
Kahiyang meletakkan kotak hitam di atas meja.
"Sini kubuka!" Devan ingin Kahiyang aman.
Devan membuka pita yang mengikat kotak hitam itu, dan setelah dibuka, ternyata isinya adalah cincin berbatu permata hitam.
Di sana ada kartu yang bertuliskan kalimat "cinta sejati dari dunia api?" heran Devan sambil membaca.
"Sepasang cincin?" Kahiyang heran.
"Ada yang ingin menjodohkan kita sejak awal tapi siapa?" Kahiyang heran.
"Kau tahu kenapa aku melihat di menara itu? Kenapa aku di ruang dansa itu?" Devan serius.
"Kenapa?" Kahiyang.
"Sebagian dari mereka... Aku melihati satu-satu wajah mereka... Wajahnya mirip dengan orang-orang yang aku tolong di masa laluku namun jiwanya sudah tidak terselamatkan... Seperti contohnya, Gerald menabrak lari adiknya Ruben dan aku yang menuntut balas sampai Gerald dipenjara namun Gerald bebas karena ayahnya menyuap.." Bisik Devan.
"Astaga!" Kahiyang terbelalak.
"Para pegawai pabrik yang diundang ayahku untuk pesta syukuran perusahaan akhir tahun namun mati keracunan hidangan dan yang meracunnya adalah ayahnya Gerald yang menjadi mitra ayahku... Semua ini berawal dari Gerald... Karena itu aku memperlakukannya seperti itu!" Devan mulai menguraikan segalanya.
"Astaga... Jadi bagaimana sekarang?" Kahiyang iba.
"Mereka sudah tenang di alam baka.. dan orang-orang baik itu semua kini mendoakan kita... Hukum tabur tuai, kebaikan kita mungkin kecil, namun akan dicatat di keabadian di ingatan semua orang... Tanpa kita ungkit sedikit pun... Dan tetap lah menjadi wanita yang berhati mulia..." Devan memasangkan cincin berpermata hitam ke jari Kahiyang.
"Manis sekali Sayang..." Kahiyang tersenyum haru.
"Mau kah mulai sekarang dan kelak kau menjadi ibu dari anak-anakku sebagai bidadari di rumahku?..." Devan meraih kedua tangan Kahiyang dengan memberi tatapan lembut.
Kahiyang mengangguk pelan, "iya..." Jawabnya dengan yakin.
"I love you..." Devan tersenyum nyaman.
"I love you more..." Kahiyang terharu.
Devan mengecup kening gadis itu sesaat sebelum semua orang melihat mereka.
Lord Devan semenjak itu meninggalkan kesan sangat membekas di hati Kahiyang untuk jangan pernah takut menghadapi dunia, apa pun hal tidak terduga yang terjadi yang mereka alami harus dihadapi dengan jiwa yang besar. Dan Devan mempelajari satu hal penting dalam hidupnya bahwa kekuatannya akan bertambah jika ada seseorang yang benar-benar selalu tulus mempercayainya seketika itu juga Devan akan meratukan sosok itu sebagai ganjaran terbaik telah senantiasa di sisinya untuk seumur hidupnya.






🤩🤩🤩
ReplyDelete